Pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional saat ini masih sangat bergantung pada impor. Hal ini terjadi karena peningkatan permintaan daging sapi tidak serta merta diimbangi dengan peningkatan populasi sapi potong di dalam negeri. Propinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah sentra sapi potong di Indonesia, dengan populasi sapi potong sebanyak 1,8 juta ekor atau peringkat kedua secara nasional.

 

Sebagai upaya untuk mempertahankan Jawa Tengah sebagai sentra produksi sapi potong di Indonesia dan sekaligus meningkatkan populasi sapi potong, strategi pengembangan sapi potong di Provinsi Jawa Tengah menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Budi Wihardyanto Utomo, salah satu mahasiswa Prodi S2 Magister Ilmu Ternak, Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro telah melakukan penelitian dengan judul “Analisis Potensi dan Strategi Pengembangan Sapi Potong di Provinsi Jawa Tengah”. Dengan bimbingan Dr. Agus Setiadi dan Dr. Retno Adiwinarti, mahasiswa tugas belajar Kementerian Pertanian Republik Indonesia tersebut telah berhasil mempertahankan tesisnya di hadapan penguji yang terdiri dari Prof. Siswanto Imam Santoso, Prof. Agung Purnomoadi dan Dr. Sugiharto baru-baru ini. Secara keseluruhan Budi Wihardyanto Utomo berhasil menyelesaikan studi magisternya dalam waktu tepat dua tahun.

Dari penelitian yang telah dilakukan, beberapa saran dapat diberikan untuk mempertahankan Jawa Tengah  sebagai sentra sapi potong, diantaranya (i) perlu perbaikan manajemen pemeliharaan sapi potong dan dukungan pemerintah dalam mengantisipasi tren negatif populasi sapi potong di Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang dan Kota Semarang; (ii) diharapkan dalam pengembangan sapi potong di Provinsi Jawa Tengah baik oleh pemerintah, pelaku usaha peternakan maupun melalui CSR, fokus memperhatikan kondisi sosial ekonomi peternak meliputi umur, tingkat pendidikan formal, pengalaman beternak, pekerjaan utama, jumlah kepemilikan ternak sapi dan status kepemilikannya; (iii) perlu adanya pemanfaatan limbah pertanian non konvensional misalnya tongkol jagung, ampas tebu dan kulit kacang serta limbah kangkung sebagai pakan ternak berupa pakan komplit berbentuk pellet; dan (iv) perlu adanya jaminan harga ternak di tingkat peternak dengan menggunakan alat ukur/timbangan sebagai dasar penentuan harga.